Rindu Tradisi Dugderan Di Semarang, Kisah Pilu Pedagang Mainan Saat Dugderan

Rindu Tradisi Dugderan Di Semarang, Kisah Pilu Pedagang Mainan Saat Dugderan

Sabtu, 10 April 2021



Warga Semarang - Sejak dahulu tradisi Dugderan merupakan tradisi tahunan yang paling di tunggu warga Semarang yang hadir pada saat bulan Suci Ramadan di Kota Semarang.

Namun, tahun ini dan tahun lalu acara tradisi tersebut tidak bisa di lakukan karena Pandemi Covid-19Tentunya dimana tradisi tersebut juga menjadi kesempatan para pedagang mainan serta yang lainnya untuk berjualan, lalu nasib pars pedagang ini tentunya sungguh mengenaskan karena dampak covid 19 ini.

Dilansir dari Ayosemarang.com, Seorang pedagang yang yang bernama pak Nur Rohmat sebagai salah seorang yang langganan berdagang di Dugderan mengaku sangat terpengaruh.

Semenjak tahun lalu pendapatannya anjlok. “Susah semua. Pendapatan saya menurun drastis,” ucap pria berusia 56 tahun ini, Rabu (7/4/2021).

Pak Nur Rohmat dan kawan kawan kini mencoba menggelar lapak di Jalan Soekarno-Hatta atau tepatnya di pintu masuk Pasar Johar Baru. dan berharap masih bisa berjualan mesikpun pembeli di pastikan akan minim.

Namun yang menjadi masalah adalah jika berdagang di pinggir jalan, dia sering kena razia Satpol PP karena dianggap melapak secara liar.

Jenis mainan khas dugderan yang Nur Rohmat jual adalah jenis-jenis gerabah, kompor mini, dan mainan truk goyang.

Nur Rohmat berharap pandemi segera berakhir dan Dugderan bisa di adakan lagi.

Sumber suara.com, ayosemarang.com, pengalaman pribadi

BACA SELANJUTNYA: 1 2